Masjid La Kai Kamina

 Berkunjung ke Masjid Kuno (La Ka’i Kamina)

Karya : Ayu Sukmawati


Liburan semester, hal yang paling dinantikan oleh hampir seluruh siswa. Pasalnya hiruk pikuk tumpukan tugas dan ujian-ujian tidak akan kami dengar beberapa minggu ke depan. Dan liburan kali ini, aku memutuskan untuk pergi ke rumah nenek, dari pada berdiam diri di rumah aku hanya menghabiskan waktu untuk rebahan dan bermain gadget, paling hanya untuk membuka sosmed. Hmmm sungguh aktifitas yang membosankan bukan? Setidaknya kalau aku pergi ke rumah nenek, aku bisa mencari udara segar meskipun aku tahu aku tidak akan pernah bisa berpisah dengan gadget milikku heheh. Namaku Mutiara, tapi keluarga dan teman-teman lebih senang memanggilku Tiara. Aku siswi sekolah menengah pertama. Selain rebahan dan main gadget, sebenarnya aku punya hobi jalan-jalan untuk menikmati keindahan alam, seperti mendaki gunung dan menikmati debur ombak pinggir pantai. Tapi sayang, hobiku yang ini jarang bisa terealisasikan heheh. Secara aku bukanlah anak yang mudah untuk mendapatkan izin bermain di luar rumah, paling kalau pergi keluar pasti perginya bareng keluarga. Mungkin itu adalah salah satu cara ayah dan ibu untuk menjagaku dari pergaulan di luar. Biasalah, orang tua selalu khawatir terhadap anaknya apa lagi aku ini perempuan.

Ya, mau gimana lagi dong, aku memang suka kalau sedang berada di alam terbuka, rasanya begitu tentram dan damai. Tapi sayang, kata ayah “anak gadis itu jauh lebih baik kalau berada di dalam rumah”. Aku tahu itu, tapi aku butuh sesuatu yang berbeda dalam hidupku. Kadang aku sempat mikir, enak ya jadi anak laki-laki, mau kemana saja boleh, kapan saja boleh. Sedangkan perempuan segala tingkah lakunya harus punya aturan. Susah juga ya jadi perempuan, harus berdampingan dengan peraturan. Tapi kata temanku, jadi perempuan itu enak karena bisa punya surga di kakinya. Kalau dipikir-pikir, benar juga sih heheh.

Hari pertama liburan di rumah nenek, momen yang tidak akan aku lewatkan begitu saja karena jarang-jarang aku bisa keluar liburan walaupun perginya tetap di temani oleh anggota keluarga. Kali ini aku ditemani oleh ayah. Oh iya, rumah nenekku berada di desa Karumbu, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Jadi di Kecamatan Langgudu ini terdapat sebuah Masjid tua yang biasa disebut oleh masyarakat setempat Masjid La Ka’i Kamina yang terletak di puncak bukit Desa Kalodu, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Jarak rumah nenek dengan masjid La Ka’i Kamina ini lumayan jauh, karena lokasi masjid ini terletak di daratan tinggi yang di kelilingi oleh pegunungan yang berhutan lebat dan terpencil dari dusun dan desa lain. Pada masa sekarang Dusun Kalodu telah menjadi Desa Kalodu yang merupakan wilayah Kecamatan Langgudu dan berjarak lebih kurang 75 km di sebelah selatan Kota Bima.

Dulu ayah sering menceritakan tentang masjid tua ini, karena ayah merupakan putra asli Desa Karumbu Kecamatan Langgudu dan dari kecil dibesarkan di sana jadi ayahku tahu lah sedikit tentang Masjid La Ka’i Kamina ini, katanya masjid itu pertama kali di bangun oleh putra mahkota kerajaan Bima bernama La Ka’i atau kemudian bernama Sultan Abdul Kahir pada tahun 1621 M. Lokasi masjid ini juga merupakan daerah tempat persembunyian Abdul Kahir dan para pengikut setianya ketika dikejar oleh pasukan pamannya sendiri. Umumnya bangunan seperti masjid berdiri di lokasi awal masuknya penyebaran Islam yaitu di daerah pesisir, akan tetapi di Bima bangunan masjid berada di lokasi pedalaman terpencil.

Nah, untuk liburan hari pertama ini ayah mengajak aku pergi berkunjung ke Masjid La Ka’i Kamina.

“Hari ini kita pergi ke Masjid La Ka’i Kamina, mau gk?” kata ayah sambil tersenyum menatapku.

“Serius yah? Pasti mau dong yah, ayo kita pergi sekarang” jawabku kegirangan

“Tiara...sarapan dulu nak!” suara yang selalu ku nantikan setiap pagi, siapa lagi kalau bukan suara nenek tersayang.

“iya nek.” Aku mengiyakannya dan bergegas untuk sarapan.

“setelah selesai makan langsung mandi dan siap-siap ya, biar kita langsung berangkat” kata ayah sambil mengelus kepalaku.

“siap bos” jawabku sambil tersenyum dan menatap wajah ayah.

Aku cepat-cepat menghabiskan sarapanku agar bisa segera berangkat. Setelah menghabiskan sarapan aku langsung bergegas untuk mandi dan siap-siap. Aku sangat senang sekali, karena selama ini aku hanya mendengar cerita tentang masjid ini dari ayah, tapi hari ini ayah mengajak aku untuk melihat langsung masjid bersejarah ini. Untuk mencapai Masjid La Ka’i Kamina di bukit Desa Kalodu, kecamatan langgudu ini kami menggunakan kendaraan beroda dua. Ternyata jalan menuju ke lokasi cukup menanjak, terjal, dan berjurang sehingga cukup memicu adrenalin. Kondisi akses jalan sebagian sudah teraspal dan sebagian masih bertanah dengan bebatuan dan kerikil. Aku sedikit ketakutan melihat kondisi jalan, tetapi ayah berusaha menenangkanku.

Setelah melewati perjalanan yang cukup menegangkan, tak terasa kami telah sampai di tempat tujuan. Masjid La Ka’i Kamina ini sangat menarik karena selain memiliki nilai sejarah tinggi juga bentuknya sangat unik, tidak seperti masjid pada umumnya. Masjid ini berdiri di atas lahan seluas 2 are dan berbentuk persegi empat dengan model terbuka, tanpa dinding pada sisi kanan dan kiri serta tidak memiliki mihrab. Sambil berjalan mengelilingi masjid kami ditemani oleh tokoh adat sekaligus perangkat desa setempat yang menjelaskan tentang Masjid La Ka’i Kamina ini, katanya “Masjid ini sengaja diberi nama La Ka’i Kamina, karena masyarakat Kalodu lah yang pertama kali mengamini dan menerima agama Islam yang di bawa La Ka’i Putra Mahkota Kerajaan Bima saat bersembunyi di Kalodu kala itu. La Ka’i  bersama tokoh adat mengucapkan dua kalimat syahadat yang dipandu oleh para mubaligh dari kerajaan Gowa, Luwu, Bone dan Tallo. Usai menerima dan memeluk islam, sebagai penghormatan diberikanlah Masjid La Ka’i Kamina sebagai pusat penyebaran agama Islam pertama di tanah Bima”.

Konon bentuk masjid ini pun mempunyai makna tersendiri, masjid bersegi empat sama sisi sebagai simbol empat putra kerajaan Bima yang memeluk agama Islam peryama kalinya yakni La Ka’i atau Abdul Kahir Sendira, La Mbilla atau Jalaluddin, Bumi Jara Mbojo atau Awaluddin dan  Manuru Bata Putera Raja Dompu atau Sirajuddin yang bergelar “Ma Wa’a Tonggo Dese”. Sementara, empat sisi bangunan mengartikan sebagai simbol asal para guru putra kerajaan yang berasal dari Sulawesi Selatan yaitu Kerajaan Gowa, Lawu, Bone dan Tallo. Begitu juga dengan tiang masjid yang berjumlah delapan sebagai simbol kerajaan Bima dan para guru Islam dari Sulawesi Selatan tersebut.

Kalau dilihat dari sekilas, bangunan Masjid La Ka’i Kamina ini mirip dengan bangunan aula yang dibiarkan terbuka. Oleh masyarakat setempat Masjid La Ka’i Kamina hanya dibersihkan pada momentum tertentu seperti saat upacara adat dan kegiatan hari-hari besar Islam.

Setelah puas jalan-jalan keliling masjid dan mendengarkan penjelasan dari tokoh adat kami beristirahat sebentar dan tak terasa hari sudah siang, dan aku sudah mulai merasakan lapar. Akhirnya kami beristirahat sambil makan siang. Aku mengeluarkan bekal yang di bawa dari rumah nenek. Setelah selesai makan siang aku dan ayah berfoto-foto untuk mengabadikan momen tersebut. Setelah puas berfoto akhirnya kami berpamitan untuk pulang karena hari juga sudah sore, sungguh itu merupakan momen yang sangat menyenangkan.

Oh iya, selain memiliki Masjid La Ka’i Kamina Desa Kalodu juga memiliki panorama alam desa yang alami, seperti air terjun dan pemandangan dari di atas pegunungan yang begitu sejuk, dingin dan alami, ditambah lagi dengan keramahan warga setempat. Bagi kalian yang tertarik ingin berkunjung, Masjid La Ka’i Kamina sebagai peninggalan Sultan Abdul Kahir ini bisa dijadikan salah satu pilihan yang tepat, guna menambah wawasan tentang jejak dan kesaksian sejarah masuknya Islam pertama di tanah Bima, sembari menikmati udara segar dan pesona alam pegunungan yang sejuk dan alami.

Hari itu kuhabiskan untuk berkunjung di tempat bersejarah yang sering ayah ceritakan. Sungguh, liburan kali ini adalah liburan yang sangat berharga dan menyenangkan bagiku. Sepulang dari masjid La Ka’i Kamina aku sadar bahwa sebagai anak bangsa yang baik, kita diharuskan untuk mengenal, menjaga, dan melestarikan kebudayaan lokal agar tidak musnah, karena kalau bukan kita siapa lagi yang akan menjaga dan melestarikannya.


Sekian dan terimakasih😊

Tunggu cerpen Ayu selanjutnya ya😇


Bima, 09 Juni 2021


Komentar

  1. Cerpen yang bagus..
    Semangat menulis 💪💪, ditunggu tulisan selanjutnya 👍🥰

    BalasHapus
  2. Cerpen yang sangat menarik, tetap semangat

    BalasHapus
  3. Mantul ayu, semangat :) jadi pengen kesana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayok kak😁 memang banyak orang yang masih belum tahu tentang keberadaan Masjid La Ka'i Kamina ini. Oleh karena itu kita sebagai generasi bangsa harus memperkenalkan budaya yang ada di daerah kita😇

      Hapus
  4. Cerpennya bagus, apalagi tentang mesjid kereennn😍

    BalasHapus
  5. Cerpen yang sangat menarik, berbudaya melalui cerita 👍

    BalasHapus
  6. Mantap, di tunggu cerita selanjutnya

    BalasHapus
  7. Semangat berkarya ,, cerpennya baguss👍🏻☺

    BalasHapus
  8. Semangat bagus banget👍👍

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemaliq Ranget